Rabu, 27 November 2013

Mimpi Buruk!

"Rumah Lebah".. jangan sangka novel dengan judul dan sampul yang menurut ku tidak menggambarkan apa yang akan di sajikan di dalamnya..
sejalan dengan itu, jalan ceritanya yang *anti mainstream* dan konflik di dalamnya tidak akan terduga..
Novel ini membuat ku mengerti apa dan bagaimana itu mimpi buruk!

"Tak ada yang tahu kapan biji tanaman jarak pecah karena dia selalu mengelabui. Jadi, saat mimpi buruk bercerita tentang pembunuhan yang terjadi atas dirimu, anggaplah sebagai gladi kotor kematian mu. Karena kematian memang selalu mengelabui dan datang tiba-tiba. Bersiap-siaplah selalu…."

Senin, 18 November 2013

Baik dan Jahat

sumber

...Mungkin pertarungan antara Baik dan Jahat berlangsung tiap saat dalam hati setiap manusia. Hati manusia adalah medan pertarungan bagi semua malaikat dan iblis; demi menguasai hati manusia; keduanya berjuang sedikit demi sedikit selama ribuan milennium, sampai salah satu dari mereka akhirnya menaklukkan lawannya...

 ~Devil and Miss Prym~

Rabu, 13 November 2013

Saya Sedang Tidak Baik-baik Saja

saya sedang tidak baik-baik saja.. kalimat itu tidak akan cukup untuk menjelaskan betapa rumitnya jalan yang sedang ku lewati..ketika alam di sekitar ku sibuk bercengkrama, entah kenapa ku temukan diriku dalam kesunyian.. merasa sendiri sepertinya..
ketika memilih diam untuk sekedar berusaha mencari pembenaran.. tapi malah tenggelam dalam lamunan dan keresahan tak berkesudahan..

Saya sedang berproses.. MUNGKIN!!
sumber

Sabtu, 21 September 2013

Persahabatan

Dan seorang remaja berkata, Bicaralah pada kami tentang Persahabatan.
Dan dia menjawab:
Sahabat adalah keperluan jiwa, yang mesti dipenuhi.
Dialah ladang hati, yang kau taburi dengan kasih dan kau tuai dengan penuh rasa terima kasih.
Dan dia pulalah naungan dan pendianganmu.
karena kau menghampirinya saat hati lupa dan mencarinya saat jiwa mau kedamaian.
Bila dia berbicara, mengungkapkan fikirannya, kau tiada takut membisikkan kata “Tidak” di kalbumu sendiri,kau tidak menyembunyikan kata “Ya”.
Dan bilamana dia diam,hatimu berhenti dan mendengar hatinya; karena tanpa ungkapan kata, dalam persahabatan, segala fikiran, hasrat, dan keinginan dilahirkan bersama dan dikongsi, dengan kegembiraan tiada terkirakan.
Di kala berpisah dengan sahabat, tiadalah kau berdukacita;
Kerana yang paling kau kasihi dalam dirinya, mungkin kau nampak lebih jelas dalam ketiadaannya, bagai sebuah gunung bagi seorang pendaki, nampak lebih agung daripada tanah ngarai dataran.
Dan tiada maksud lain dari persahabatan kecuali saling memperkaya roh kejiwaan.
Kerana cinta yang mencari sesuatu di luar jangkauan misterinya, bukanlah cinta , tetapi sebuah jala yang ditebarkan: hanya menangkap yang tiada diharapkan.

Dan persembahkanlah yang terindah bagi sahabatmu.
Jika dia harus tahu musim surutmu, biarlah dia mengenali pula musim pasangmu.
Gerangan apa sahabat itu jika kau sentiasa mencarinya, untuk sekadar bersama dalam membunuh waktu?
Carilah ia untuk bersama menghidupkan sang waktu!
Kerana dialah yang bisa mengisi kekuranganmu, bukan mengisi kekosonganmu.
Dan dalam manisnya persahabatan, biarkanlah ada tawa ria dan berkongsi kegembiraan..
Kerana dalam titisan kecil embun pagi, hati manusia menemui fajar dan ghairah segar kehidupan.

~Khalil Gibran

Kamis, 05 September 2013

Pasang ri Kajang

Ammatoa, nama salah satu suku adat yang berdiam di Kabupaten Bulukumba, Provinsi Sulawesi  Selatan. Masyarakat Ammatoa adalah suku yang masih mempertahankan adat tradisi mereka hingga saat ini. Dengan berpegangan pada pesan leluhur, mereka menjaga kelestarian budaya dan lingkungan mereka ditengah gempuran nilai-nilai ekstrim.
http://www.hiburdunia.com/2011/04/badui-di-bulukumba.html
            
Di kehidupan sosial, masyarakat ammatoa memiliki pedoman hidup yang di sebut pasang ri kajang. Pedoman ini berisi pesan dan amanah dari leluhur mereka yang dianggap sebagai nilai yang sakral. Sama halnya dengan masyarakat adat  lainnya, pasang ri kajang ini memuaut nilai dan materi yang mengajarkan tentang kebajikan yang menuntun manusia untuk berbuat baik, jujur, dan sederhana. Selain pasang ri kajang, masyrakat ammatoa juga menganut sistem kepercayaan yang disebut patuntung. Baik pasang ri kajang maupun patuntung menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari keseharian mereka.
Masyarakat ammatoa ini dikenal dengan kearifan lokal yang mereka miliki. Pola hidup yang sederhana serta pelestarian hutan adat yang terus mereka lakukan,  menunjukkan kebersahajaan dalam menjalani hidup. Seperti dalam konsep adat mereka yang tertuang dalam pasang ri kajang, “kalumanynyang kalupepeang, rie’ Kamase-masea”. Artinya, “ditempat ini (kawasan adat ammatoa), tidak ada kekayaan, yang ada hanya kesederhanaan”. Sebuah konsep yang cukup sederhana, namun membawa makna yang jauh lebih dalam.  Dalam pasang (pesan) itu, mengisyaratkan masyarakat ammatoa untuk merasa cukup dengan kesederhanaan, karena kehidupan makmur dianggap sebagai sesuatu yang berlebihan.
            Konsep kesederhanaan bagi mereka sendiri telah di gariskan dalam pasang ri kajang. “Angnganre na rie’, care-care na rie, pammalli juku na rie’, tana koko na galung rie, balla situju-tuju”. Artinya; bila makanan sudah ada, pakaian ada, pembeli lauk ada, sawah dan ladang ada, dan rumah yang sederhana.
            Selain memuat amanat tentang kehidupan sehari-hari, pasang ri kajang juga memuat nilai-nilai yang mengatur sistem pengelolaan hutan adat. Hutan seluasnya ±100 hektar masuk dalam kawasan hutan adat ammatoa, yang mereka sebut tana toa. Dalam kepercayaan patuntung, hutan dianggap sebagai tempat pertama kalinya manusia diturunkan. Ditempat itu pula, manusia akan dibangkitkan ke langit untuk mencapai kehidupan bersama tuhan. Sebuah kawasan yang mereka anggap sakral, sehingga mereka enggan untuk merusak ekosistem yang ada didalamnnya. Dalam pasang disebutkan; “Punna nitabbangngi kayua, Nipappirangngangngi angngurangi bosi, Appatanre’tumbusu, napau turiolow”. Artinya, jika hutan ditebang, akan mengurangi hujan dan menghilangkan mata air. Begitu menurut nenek moyang.
            Ada banyak hal yang dapat kita petik dari kehidupan masyarakat ammatoa. Kebersahajaan hidup mereka yang berlandaskan pada pasang ri kajang dan kepercayaan patuntung , sangat berpengaruh pada pengelolaan lingkungan hidup mereka. Sebuah usaha untuk lebih memanusiakan manusia.

Senin, 08 April 2013

NASIONALISME INDONESIA

http://www.indonesiaberprestasi.web.id/wp-content/uploads/2010/12/0924416620X310.jpg

Nasionalisme dikenal juga sebagai satu paham yang menciptakan dan mempertahankan kedaulatan sebuah negara (dalam bahasa Inggris "nation") dengan mewujudkan satu konsep identitas bersama untuk sekelompok manusia.
Berbicara tentang nasionalisme Indonesia, perlu dicatat bahwa kita tidak dapat menyamakan begitu saja dengan nasionalisme Barat. Nasionalisme Indonesia adalah nasionalisme berlandaskan Pancasila. Nasionalisme yang bersenyawa dengan keadilan sosial, yang oleh Bung Karno disebut Socio-nasionalisme. Nasionalisme yang demikian ini menghendaki penghargaan, penghormatan, toleransi kepada bangsa atau suku bangsa lain. Maka nasionalisme Indonesia berbeda dengan nasionalisme Barat yang bisa menjurus kepada sikap ethnonationalisme (nasionalisme sempit) yang membenci bangsa atau suku bangsa lain, menganggap bangsa atau suku bangsa sendirilah yang paling bagus, paling unggul, sesuai dengan individualisme Barat.
Nasionalisme Indonesia memiliki dua unsur. Pertama, kesadaran mengenai persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia yang terdiri atas berbagai suku, etnik, dan agama. Kedua, kesadaran bersama bangsa Indonesia dalam menghapuskan segala bentuk penjajahan, dan penindasan dari bumi Indonesia. Semangat dari dua substansi tersebutlah yang kemudian tercermin dalam Sumpah Pemuda dan Proklamasi serta dalam Pembukaan UUD 1945.
    Memudarnya nasionalisme, yang terutama disebabkan begitu tingginya ketidak-adilan; korupsi yang merajalela dan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) yang tidak diselesaikan secara tuntas lewat jalur hukum dan lain-lain
Nasionalisme kita sekarang bukan berkaitan dengan penjajah, atau terutama terhadap perilaku ekspansif atau agresor Negara tetangga, melainkan harus dikaitkan dengan keinginan untuk memerangi semua bentuk penyelewengan, ketidak-adilan, perlakuan yang melanggar HAM dan lai-lain. Artinya nasionalisme saat ini adalah usaha untuk mempertahankan eksistensi bangsa dan Negara dari kehancuran akibat korupsi dan penyalah-gunaan kekuasaan.

Rabu, 03 April 2013

DAN KETIKA SENJA

sumber : http://pixabay.com/static/uploads/photo/2012/06/04/07/27/sunset-49383_640.jpg?i

Hari itu, dalam suasana yang hangat terlintas sebuah memori indah yang membuat saya dan beberapa teman merenung. Merenungkan lebih jauh tentang sebuah pergeseran. Yang membuat kami mau tidak mau membandingkan “senja” kami di masa lalu dan “senja” yang kami nikmati sekarang.
          Disenja itu, langit sedang mendung. Saya dan beberapa teman sedang berusaha mengumpulkan sisa tenaga untuk beranjak dari Kampus. Lelah mungkin yang membuat salah seorang dari kami malah termenung. Bernostalgia dengan cuaca yang lembab. Di jam, cuaca dan suasana seperti ini, dulu adalah “jam bermain”. Serempak kami mengiyakan. Karena memang betul, kami dari generasi yang sama dan besar dizaman yang sama.
          Dulu, ketika sore mulai meninggalkan singgsananya, itu adalah waktu terbaik untuk kami bersosialisasi dengan teman sepermainan alias “teman satu kompleks”. Dengan nada panggilan yang serupa tapi tak sama “Ainun.. main-main ki”. Berlarian kesana kemari adalah hal biasa.  Bermain “kude’deng” dengan anak satu lorong itu normal. Main petak umpet dengan anak satu kompleks itu luar biasa.
         Pemandangan yang juga tidak kami lupakan, ketika anak-anak itu sibuk bermain dengan sesamanya, para orang tua juga punya kesempatan untuk menyapa satu sama lain. Hingga Suasana sangat kental dengan rasa kebersamaan dan persaudaraan.
        Saat warna jingga menguasai horizon di ufuk barat, sayup-sayup terdengar lantunan ayat suci dari mesjid kompleks. Dengan serta merta para oang tua mengajak kami pulang. “pulang meki mandi nak, magrib mi”.
            Sekarang, senja itu telah berubah di mata kami. Di kompleks tempat kami tinggal sudah jarang kami mendengar riuh rendah suara anak-anak yang berlarian. Atau mungkin kami yang jarang di rumah.. hehehe. Tapi tidak. Anak jaman sekarang lebih suka bermain di dalam rumah, mungkin karena cuaca yang semakin panas atau karena “The Power of Gadget”.
         Bukan hanya itu yang kami rasakan. Di langit senja ada yang berubah. Jingga itu tidak lagi secerah dulu. Jingga itu hanya tinggal siluet-siluet warna yang nyaris tenggelam di antara awan kelabu. Sangat berbeda dengan apa yang kami lihat dulu.
                Apa ini yang dinamakan perubahan zaman ?? kenapa malah kami merasa ada yang hilang. Bingung harus menanggapinya dengan cara bagaimana. Memang perubahan zaman itu membawa kesejahteraan, tapi ada sisi yang hilang dari situ. Ini kah yang diinginkan oleh zaman ??