Rabu, 07 Mei 2014

Take Your Responsibility!

Saya tidak muluk-muluk ji..
 
yang saya minta itu pertanggungjawaban atas apa yang telah anda katakan..
itu sudah jadi konsekuensi dari pilihan anda..

saya tidak menuntut kesempurnaan..
satu hal yang paling saya sesali adalah kenapa anda menyanggupi hal yang  tidak bisa anda pertanggung jawabkan..

saya menilai, dan saya kecewa..
sekian..

Selasa, 11 Februari 2014

-Menunda-



Makassar, 11 februari 2014
Selasa, 23:18 WITA

Nama.. Ainun Jariah Yusuf, bisa dipanggil Ainun. Umur 19 tahun. Mahasiswi semester 4  Jurusan Ilmu Komunikasi Unhas. Hobi.. *blablablablanla*…*de.el.el*…
Well, it’s me! :D

Tanpa terasa, perjalanan saya sudah cukup jauh. 1,5 tahun melepaskan diri dari status anak sekolahan. Dan sudah 1,5 tahun pula menyandang gelar mahasiswa. Jika “maba” disebut sebagai masa transisi, kini sudah bukan jamannya lagi. Ini waktunya saya mengukuhkan diri jadi mahasiswa *bede*.

Berhubung 1,5 tahun itu bukan waktu yang cepat, Di kurun waktu itu, saya sudah melewati berbagai macam dan bentuk proses. proses berpikir, proses bersosialisasi, *bla..bla..bla*, bahkan proses pendewasaan. Nah, bagaimana hasilnya? Adakah yang berubah dari saya?

Tidak perlu memberikan “tanda tanya besar” pada pertanyaan itu. Jawabannya dengan cepat akan saya temukan di mesin pencari paling canggih yang diciptakan Tuhan dengan cara introspeksi diri.
Sayangnya, ada beberapa hal yang belum dapat saya rubah. Salah satunya, kebiasaan MENUNDA!
Terlepas dari streotip, bahwa orang bergolongan darah O suka menunda.  -_-“

Hari ini, tanpa sengaja saya membaca riwayat salah seorang khalifah (pemimpin) dari Bani Umayyah, beliau adalah Umar bin Abdul Azis.
Diriwayatkan bahwa Umar bin Abdul Aziz setiap kali menyelesaikan satu pekerjaan, ia langsung mengerjakan pekerjaan yang lain. jika pada siang hari pekerjaannya itu belum selesai, ia menggunakan waktu malamnya untuk menyelesaikannya. begitu seterusnya hingga pekerjaannya selesai.

pada suatu hari ada seorang kawan lama yang berkata kepadanya “luangkanlah waktu untukku supaya kita bisa berbincang-bincang tentang masa muda kita dulu?”.

umar menjawab, “setelah hari itu (hari pengangkatanku menjadi khalifah) tidak ada waktu luang bagiku”. kisah ini diceritakan oleh Fatimah binti Abdul Malik.

Dalam riwayat yang lain..
Pada suatu hari Umar dihadapkan pada pekerjaan yang menumpuk hinggaia letih dan capai. Pada kondisi seperti itu ada seorang kawan yang berkata, “tunda saja pekerjaan itu sampai esok”

Umar menjawab ” pekerjaan satu hari saja sudah menyebabkanku letih, bagaimana jika pekerjaan yang seharusnya dilakukan dalam dua hari digabung menjadi satu hari?

Dalam bacaan lain, seseorang berkata seperti ini; “Besok dalah waktunya orang-orang yang lemah yang tidak mampu mengatur waktunya dengan baik.”
Semoga riwayat itu, menjadi bahan pembelajaran tidak  hanya untuk saya. Tapi juga untuk orang-orang yang telah menyempatkan waktunya membaca tulisan ini. Saya bisa merubah kebiasaan buruk itu, dan saya yakin bisa! :)

Rabu, 05 Februari 2014

Aku, Sesal dan Ego



sumber

Makassar, 3 February 2014
Senin, 00.03 WITA
Inilah aku yang hidup dan bersahabat dengan benteng berlapis-lapis, padang rumput yang tidak terlalu luas, rumah kecil dengan satu jendela kaca, dan selimut tebal nan rapuh.

Sesal ku kembali datang. Sesalu saja ia berkunjung, meski terkadang tidak ku inginkan. Kali ini ia datang karena sebuah panggilan. Tapi ku yakin bukan aku yang memanggilanya. Undangan itu datang dari seseorang yang mengacau di pintu kecil, disalah satu lapisan bentengku. Sebuah pintu dengan daunnya yang selalu ku jaga selama ini. Sesal ku meronta, karena kekacauan itu terlampau rumit dan merusak daun pintu ku. Si pengacau tidak datang sendiri dan bodohnya ia bertingkah lugu di depanku.

Tidakkah kau tau, aku juga hidup bersama ego. Ia akan keluar dari zona nyamannya, rumah kecilku, ketika salah satu temannya datang berkunjung, Sesal! Ego tahu seseorang telah berbuat kekacauan di salah satu lapisan bentengku. Dan bukan ego jika ia tidak memperbaiki pintu itu. Kali ini tanpa daun pintu. Tertutup Rapat! Tidak hanya sampai disitu, ego akan membantu ku membangun lapisan-lapisan benteng baru. Hingga sekarang lapisan benteng ku… ah sudahlah, aku terlalu malas untuk menghitungnya. Toh, hanya aku yang bisa melihatnya.

Jika ada yang berkata aku egois, akan ku benarkan saja. Itu adalah konsekuensi karena aku hidup dan bersahabat dengan ego. Walau terkadang, ia tidak dapat ku kendalikan, tapi setidaknya ia setia! ~,~
_DTA From Runningman

Senin, 03 Februari 2014

Berproses dengan Bebat

Makassar, 31 januari 2014
Jumat, 22.30 WITA

Angin malam kalap menerpa wajah ku. Sekelumit pikiran menari-nari di benakku, terasa menambah bebat di dada. MENAMBAH! Karena yang sebelumnya belum sempat ku lepas. Sulit memang, tapi inilah proses.
Tapi sadarkah kau, jika ini adalah proses maka bebat itu tidak akan pernah sepenuhnya terlepas..  Dan berproses adalah apakah kita mampu melepas bebat itu dengan perlahan atau malah terpuruk karenanya.

Minggu, 15 Desember 2013

AKU dan HUJAN

Makassar
18.56 WITA, 13 Desember 2013.

Ketika tetesan air itu perlahan turun, angin kalap menerpa wajahku, berpacu dalam kecepatan. Berdalih menghindari hujan.
Dalam diam.. kenapa harus menghindari hujan?? Bukankah hujan adalah anugerah tuhan?? Apa yang salah dengan tetes-tetes air itu??

Terlepas dari kenyataan bahwa aku harus mendekap kedua tangan ku rapat-rapat, kedinginan! Ternyata ada banyak makna di balik hujan. Hujan mengantarkan tetes kehidupan ke bumi. Tidak hanya itu!
Sepotong cerita mengantarkan ku pada kedalaman makna hujan itu..
“Pernah berpikir, kenapa awan hadir lebih dahulu setiap kali hujan akan turun?”
“Tidak,” jawabku
“Bukankah artinya sudah jelas, hujan akan turun setelah muncul awan mendung di langit?” lanjutku.
“Aku punya filosofi sendiri,”
“Apa itu?”
“Karena awan paling setia. Menemani hujan hadir untuk bumi, walau setelahnya hujan berlalu begitu saja, meninggalkan awan di atas sana.”

Tapi di perspektif lain, hujan berada di posisi yang berbeda.. Tuhan telah menitipkan pesan bisu nan dalam di bulir-bulir kehidupan itu. 

Hujan turun, menggenang, kemudian lenyap. Terkadang, kita melihat langit yang begitu cerah namun tiba-tiba hujan turun lalu reda begitu saja. Ya, karena hujan tidak perah tahu, kapan ia akan pergi dan kapan akan kembali lagi. Diposisi yang sama, hujan tak pernah memilih harus hadir dalam keadaan seperti apa. Dia bahkan tidak pernah tau akan jatuh di tempat yang seperti apa.
Yang hujan tau, ia telah menjalankan apa yang diamanahkan padanya. 

Ku temukan diriku terkadang mengabaikan hal-hal kecil, yang sebenarnya Tuhan ciptakan untuk alasan yang jauh lebih besar. Hal-hal yang patut ku syukuri keberadaannya. Hari ini lewat Hujan, Alam kembali menjadi guru. Menggurui ku untuk tidak lupa selalu bersyukur!

Rabu, 27 November 2013

Mimpi Buruk!

"Rumah Lebah".. jangan sangka novel dengan judul dan sampul yang menurut ku tidak menggambarkan apa yang akan di sajikan di dalamnya..
sejalan dengan itu, jalan ceritanya yang *anti mainstream* dan konflik di dalamnya tidak akan terduga..
Novel ini membuat ku mengerti apa dan bagaimana itu mimpi buruk!

"Tak ada yang tahu kapan biji tanaman jarak pecah karena dia selalu mengelabui. Jadi, saat mimpi buruk bercerita tentang pembunuhan yang terjadi atas dirimu, anggaplah sebagai gladi kotor kematian mu. Karena kematian memang selalu mengelabui dan datang tiba-tiba. Bersiap-siaplah selalu…."

Senin, 18 November 2013

Baik dan Jahat

sumber

...Mungkin pertarungan antara Baik dan Jahat berlangsung tiap saat dalam hati setiap manusia. Hati manusia adalah medan pertarungan bagi semua malaikat dan iblis; demi menguasai hati manusia; keduanya berjuang sedikit demi sedikit selama ribuan milennium, sampai salah satu dari mereka akhirnya menaklukkan lawannya...

 ~Devil and Miss Prym~

Rabu, 13 November 2013

Saya Sedang Tidak Baik-baik Saja

saya sedang tidak baik-baik saja.. kalimat itu tidak akan cukup untuk menjelaskan betapa rumitnya jalan yang sedang ku lewati..ketika alam di sekitar ku sibuk bercengkrama, entah kenapa ku temukan diriku dalam kesunyian.. merasa sendiri sepertinya..
ketika memilih diam untuk sekedar berusaha mencari pembenaran.. tapi malah tenggelam dalam lamunan dan keresahan tak berkesudahan..

Saya sedang berproses.. MUNGKIN!!
sumber

Sabtu, 21 September 2013

Persahabatan

Dan seorang remaja berkata, Bicaralah pada kami tentang Persahabatan.
Dan dia menjawab:
Sahabat adalah keperluan jiwa, yang mesti dipenuhi.
Dialah ladang hati, yang kau taburi dengan kasih dan kau tuai dengan penuh rasa terima kasih.
Dan dia pulalah naungan dan pendianganmu.
karena kau menghampirinya saat hati lupa dan mencarinya saat jiwa mau kedamaian.
Bila dia berbicara, mengungkapkan fikirannya, kau tiada takut membisikkan kata “Tidak” di kalbumu sendiri,kau tidak menyembunyikan kata “Ya”.
Dan bilamana dia diam,hatimu berhenti dan mendengar hatinya; karena tanpa ungkapan kata, dalam persahabatan, segala fikiran, hasrat, dan keinginan dilahirkan bersama dan dikongsi, dengan kegembiraan tiada terkirakan.
Di kala berpisah dengan sahabat, tiadalah kau berdukacita;
Kerana yang paling kau kasihi dalam dirinya, mungkin kau nampak lebih jelas dalam ketiadaannya, bagai sebuah gunung bagi seorang pendaki, nampak lebih agung daripada tanah ngarai dataran.
Dan tiada maksud lain dari persahabatan kecuali saling memperkaya roh kejiwaan.
Kerana cinta yang mencari sesuatu di luar jangkauan misterinya, bukanlah cinta , tetapi sebuah jala yang ditebarkan: hanya menangkap yang tiada diharapkan.

Dan persembahkanlah yang terindah bagi sahabatmu.
Jika dia harus tahu musim surutmu, biarlah dia mengenali pula musim pasangmu.
Gerangan apa sahabat itu jika kau sentiasa mencarinya, untuk sekadar bersama dalam membunuh waktu?
Carilah ia untuk bersama menghidupkan sang waktu!
Kerana dialah yang bisa mengisi kekuranganmu, bukan mengisi kekosonganmu.
Dan dalam manisnya persahabatan, biarkanlah ada tawa ria dan berkongsi kegembiraan..
Kerana dalam titisan kecil embun pagi, hati manusia menemui fajar dan ghairah segar kehidupan.

~Khalil Gibran

Kamis, 05 September 2013

Pasang ri Kajang

Ammatoa, nama salah satu suku adat yang berdiam di Kabupaten Bulukumba, Provinsi Sulawesi  Selatan. Masyarakat Ammatoa adalah suku yang masih mempertahankan adat tradisi mereka hingga saat ini. Dengan berpegangan pada pesan leluhur, mereka menjaga kelestarian budaya dan lingkungan mereka ditengah gempuran nilai-nilai ekstrim.
http://www.hiburdunia.com/2011/04/badui-di-bulukumba.html
            
Di kehidupan sosial, masyarakat ammatoa memiliki pedoman hidup yang di sebut pasang ri kajang. Pedoman ini berisi pesan dan amanah dari leluhur mereka yang dianggap sebagai nilai yang sakral. Sama halnya dengan masyarakat adat  lainnya, pasang ri kajang ini memuaut nilai dan materi yang mengajarkan tentang kebajikan yang menuntun manusia untuk berbuat baik, jujur, dan sederhana. Selain pasang ri kajang, masyrakat ammatoa juga menganut sistem kepercayaan yang disebut patuntung. Baik pasang ri kajang maupun patuntung menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari keseharian mereka.
Masyarakat ammatoa ini dikenal dengan kearifan lokal yang mereka miliki. Pola hidup yang sederhana serta pelestarian hutan adat yang terus mereka lakukan,  menunjukkan kebersahajaan dalam menjalani hidup. Seperti dalam konsep adat mereka yang tertuang dalam pasang ri kajang, “kalumanynyang kalupepeang, rie’ Kamase-masea”. Artinya, “ditempat ini (kawasan adat ammatoa), tidak ada kekayaan, yang ada hanya kesederhanaan”. Sebuah konsep yang cukup sederhana, namun membawa makna yang jauh lebih dalam.  Dalam pasang (pesan) itu, mengisyaratkan masyarakat ammatoa untuk merasa cukup dengan kesederhanaan, karena kehidupan makmur dianggap sebagai sesuatu yang berlebihan.
            Konsep kesederhanaan bagi mereka sendiri telah di gariskan dalam pasang ri kajang. “Angnganre na rie’, care-care na rie, pammalli juku na rie’, tana koko na galung rie, balla situju-tuju”. Artinya; bila makanan sudah ada, pakaian ada, pembeli lauk ada, sawah dan ladang ada, dan rumah yang sederhana.
            Selain memuat amanat tentang kehidupan sehari-hari, pasang ri kajang juga memuat nilai-nilai yang mengatur sistem pengelolaan hutan adat. Hutan seluasnya ±100 hektar masuk dalam kawasan hutan adat ammatoa, yang mereka sebut tana toa. Dalam kepercayaan patuntung, hutan dianggap sebagai tempat pertama kalinya manusia diturunkan. Ditempat itu pula, manusia akan dibangkitkan ke langit untuk mencapai kehidupan bersama tuhan. Sebuah kawasan yang mereka anggap sakral, sehingga mereka enggan untuk merusak ekosistem yang ada didalamnnya. Dalam pasang disebutkan; “Punna nitabbangngi kayua, Nipappirangngangngi angngurangi bosi, Appatanre’tumbusu, napau turiolow”. Artinya, jika hutan ditebang, akan mengurangi hujan dan menghilangkan mata air. Begitu menurut nenek moyang.
            Ada banyak hal yang dapat kita petik dari kehidupan masyarakat ammatoa. Kebersahajaan hidup mereka yang berlandaskan pada pasang ri kajang dan kepercayaan patuntung , sangat berpengaruh pada pengelolaan lingkungan hidup mereka. Sebuah usaha untuk lebih memanusiakan manusia.

Senin, 08 April 2013

NASIONALISME INDONESIA

http://www.indonesiaberprestasi.web.id/wp-content/uploads/2010/12/0924416620X310.jpg

Nasionalisme dikenal juga sebagai satu paham yang menciptakan dan mempertahankan kedaulatan sebuah negara (dalam bahasa Inggris "nation") dengan mewujudkan satu konsep identitas bersama untuk sekelompok manusia.
Berbicara tentang nasionalisme Indonesia, perlu dicatat bahwa kita tidak dapat menyamakan begitu saja dengan nasionalisme Barat. Nasionalisme Indonesia adalah nasionalisme berlandaskan Pancasila. Nasionalisme yang bersenyawa dengan keadilan sosial, yang oleh Bung Karno disebut Socio-nasionalisme. Nasionalisme yang demikian ini menghendaki penghargaan, penghormatan, toleransi kepada bangsa atau suku bangsa lain. Maka nasionalisme Indonesia berbeda dengan nasionalisme Barat yang bisa menjurus kepada sikap ethnonationalisme (nasionalisme sempit) yang membenci bangsa atau suku bangsa lain, menganggap bangsa atau suku bangsa sendirilah yang paling bagus, paling unggul, sesuai dengan individualisme Barat.
Nasionalisme Indonesia memiliki dua unsur. Pertama, kesadaran mengenai persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia yang terdiri atas berbagai suku, etnik, dan agama. Kedua, kesadaran bersama bangsa Indonesia dalam menghapuskan segala bentuk penjajahan, dan penindasan dari bumi Indonesia. Semangat dari dua substansi tersebutlah yang kemudian tercermin dalam Sumpah Pemuda dan Proklamasi serta dalam Pembukaan UUD 1945.
    Memudarnya nasionalisme, yang terutama disebabkan begitu tingginya ketidak-adilan; korupsi yang merajalela dan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) yang tidak diselesaikan secara tuntas lewat jalur hukum dan lain-lain
Nasionalisme kita sekarang bukan berkaitan dengan penjajah, atau terutama terhadap perilaku ekspansif atau agresor Negara tetangga, melainkan harus dikaitkan dengan keinginan untuk memerangi semua bentuk penyelewengan, ketidak-adilan, perlakuan yang melanggar HAM dan lai-lain. Artinya nasionalisme saat ini adalah usaha untuk mempertahankan eksistensi bangsa dan Negara dari kehancuran akibat korupsi dan penyalah-gunaan kekuasaan.

Rabu, 03 April 2013

DAN KETIKA SENJA

sumber : http://pixabay.com/static/uploads/photo/2012/06/04/07/27/sunset-49383_640.jpg?i

Hari itu, dalam suasana yang hangat terlintas sebuah memori indah yang membuat saya dan beberapa teman merenung. Merenungkan lebih jauh tentang sebuah pergeseran. Yang membuat kami mau tidak mau membandingkan “senja” kami di masa lalu dan “senja” yang kami nikmati sekarang.
          Disenja itu, langit sedang mendung. Saya dan beberapa teman sedang berusaha mengumpulkan sisa tenaga untuk beranjak dari Kampus. Lelah mungkin yang membuat salah seorang dari kami malah termenung. Bernostalgia dengan cuaca yang lembab. Di jam, cuaca dan suasana seperti ini, dulu adalah “jam bermain”. Serempak kami mengiyakan. Karena memang betul, kami dari generasi yang sama dan besar dizaman yang sama.
          Dulu, ketika sore mulai meninggalkan singgsananya, itu adalah waktu terbaik untuk kami bersosialisasi dengan teman sepermainan alias “teman satu kompleks”. Dengan nada panggilan yang serupa tapi tak sama “Ainun.. main-main ki”. Berlarian kesana kemari adalah hal biasa.  Bermain “kude’deng” dengan anak satu lorong itu normal. Main petak umpet dengan anak satu kompleks itu luar biasa.
         Pemandangan yang juga tidak kami lupakan, ketika anak-anak itu sibuk bermain dengan sesamanya, para orang tua juga punya kesempatan untuk menyapa satu sama lain. Hingga Suasana sangat kental dengan rasa kebersamaan dan persaudaraan.
        Saat warna jingga menguasai horizon di ufuk barat, sayup-sayup terdengar lantunan ayat suci dari mesjid kompleks. Dengan serta merta para oang tua mengajak kami pulang. “pulang meki mandi nak, magrib mi”.
            Sekarang, senja itu telah berubah di mata kami. Di kompleks tempat kami tinggal sudah jarang kami mendengar riuh rendah suara anak-anak yang berlarian. Atau mungkin kami yang jarang di rumah.. hehehe. Tapi tidak. Anak jaman sekarang lebih suka bermain di dalam rumah, mungkin karena cuaca yang semakin panas atau karena “The Power of Gadget”.
         Bukan hanya itu yang kami rasakan. Di langit senja ada yang berubah. Jingga itu tidak lagi secerah dulu. Jingga itu hanya tinggal siluet-siluet warna yang nyaris tenggelam di antara awan kelabu. Sangat berbeda dengan apa yang kami lihat dulu.
                Apa ini yang dinamakan perubahan zaman ?? kenapa malah kami merasa ada yang hilang. Bingung harus menanggapinya dengan cara bagaimana. Memang perubahan zaman itu membawa kesejahteraan, tapi ada sisi yang hilang dari situ. Ini kah yang diinginkan oleh zaman ??

Sabtu, 23 Maret 2013

UNGKAP KETIDAKTAHUAN DENGAN JURNALISTIK


Diklat Dasar Jurnalistik
Penerbitan kampus universitas hasanuddin Identitas, mengadakan dikdas jurnalistik yang ke-39. Saya dan beberapa teman dari korps mahasiswa komunikasi ( kosmik ) unhas mengikuti kegiatan bertemakan “ungkap ketidaktahuan dengan jurnlistik” yang diadakan di Lec Athirah Baruga Antang ini. Tepatnya pada tanggal 15-17 maret 2013. Dalam kegiatan ini, pesertanya tidak hanya dari kalangan mahasiswa unhas, tetapi juga dari beberapa perguruan tinggi di Makassar. Bahkan ada yang dari kalangan militer dan pelajar SMA.
            Para peserta kegiatan berbaur menjadi satu tanpa memandang asal institusi. Karena kami dibagi kedalam 10 kelompk. Masing-masing kelompok dinamai sesuai dengan rubrik yang ada di Koran identitas. Mulai dari laput, civitas, koridor, kampusiana, dan lain-lain.
            Dalam dikdas kali ini kami menerima berbagai macam materi yang dibawakan oleh para jurnalis professional. Materi-materi itu tentu saja sangat bermanfaat bagi kami para peserta yang memang sangat tertarik dengan dunia jurnalistik. Materi pertama yang kami terima bertemakan “sepuluh elemen dasar jurnalistik” yang dibawakan oleh Upi Asmaradana. Beliau selaku fasilitator acara ini juga membagikan pengalamannya menjadi seorang jurnalis. Menurut bang upi, jurnalis adalah pilar demokrasi karena menyuarakan aspirasi rakyat yang tidak didengar oleh para wakil rakyat. Beliau juga menambahkan bahwa tugas utama seorang jurnalis adalah membuat orang yang tidak tahu menjadi tahu.
            Dalam materi pertama ini, saya dapat pengetahuan baru bahwa tugas seorang jurnalis bukan hanya sekedar mencari berita. Tetapi juga memiliki tanggung jawab sosial yang besar kepada masyarakat. Karenanya seorang jurnalis harus loyal kepada dalam memberitakan kebenaran.
            Materi kemudian dilanjutkan oleh ketua dewan pers, bapak agus sudibyo. Beliau membawakan materi menngenai “ kode etik jurnalistik dan problem penegakannya”. Hal yang paling mendasar yang saya dapat dari materi ini adalah bagaimana konfirmasi dan verifikasi data dalam berita itu sangat penting. Ketika pelanggaran kode etik jurnalistik tetap terjadi, maka semakin banyak orang yang tidak nyaman dengan kebebasan pers. Padahal kita tahu bahwa kebebasan pers di Indonesia bukan hal yang gampang kita raih. Butuh perjuangan panjang untuk itu. Di materi ini beliau juga menjelaskan bagaimana kode etik jurnalistik ini bisa dijungkir balik atau diberikan pengecualian untuk liputan yang konteksnya berupa investigasi. Namun, konsekuensi harus ditanggung oleh pribadi yang meliput.
            Di materi selanjutnya peserta mendapatkan materi mengenai “teknik wawancara”. Di jaman sekarang wawancara tidak lagi harus bertatap muka, tetapi lebih fleksibel dengan memanfaaatkan media dan teknologi yang ada. Namun, wawancara langsung tetap lebih bernilai karena dibutuhkan gesture dari narasumber yang akan melengkapi berita.
Materi terakhir yang kami dapatkan di hari pertama adalah “straight dan feature news”. Dalam materi ini peserta dijelaskan mengenai teknik-teknik menulis berita, baik itu straight maupun feature. Ada banyak hal baru yang saya dapatkan dimateri ini, termasuk perbedaan mendasar dari straight dan feature news. Di akhir sesi materi ini, para peserta diberi tugas membuat straight news dan feature news dalam waktu kurang dari 10 menit. Sebuah tantangan baru untuk saya, belajar memahami bahwa seorang jurnalis harus patuh pada deadline.
Dihari kedua, materi yang peserta terima lebih bersifat teknik. Mulai dari menulis berita sampai pada membuat media. Sebuah kutipan yang sangat berkesan saya dengar di materi pertama yang berjudul “menulis berita”, yang dibawakan oleh Sukriansyah Latief. “ bad news is good news, but good news is the best news”. Kutipan ini diharapkan dapat mengubah persepsi para jurnalis kedepannya agar tidak hanya mencari berita yang buruk-buruk. Cobalah untuk membuat berita yang sifatnya lebih positif.
Kemudian berlanjut kemateri kedua dan ketiga, yang berjudul “fiksi dan non-fiksi” serta “merencanakan tulisan”. Dalam kedua materi ini, saya mendapatkan sebuah motivasi bahwa kunci seorang jurnasis adalah membaca. Di materi ke empat, ada hal baru yang saya dan teman-teman dapatkan. “foto jurnalistik”. Ternyata foto juga bisa dijadikan berita, karena bisa memuat unsur 5W+1H. memotret untuk foto jurnalistik berarti memotret sesuatu yang kontras dan saling berhubungan.
Setelah menutup materi “foto jurnalistik”, dilanjutkan dengan materi “layout”. Di materi ini peserta diajarkan bahwa layout sangat dibutuhkan agar memudahkan public untuk membaca berita. Tidak hanya itu, peserta juga diperlihatkan bagaimana teknik mendesain sebuah poster dengan menggunakan software Adobe Photoshop.
Kegiatan terus berlanjut hingga malam hari. Setelah semua materi selesai, para peserta ditugaskan untuk membuat media sendiri. Dikhususkan untuk madding. Madding yang dibuat harus memuat banyak rubric-rubrik yang telah ditentukan oleh panitia. Tidak lupa dengan embel-embel deadline yang hanya 1 jam.
Hari terakhir, para peserta mendapatkan kesempatan untuk bertemu dengan ketua umum Aliansi Jurnalis Indonesia. Setelah itu, kami ditugaskan untuk turun langsung kelapangan untuk meliput. Peserta dibagi kedalam 6 kelompok, saya masuk kedalam kelompok 4. Tempat peliputan kami adalah karebosi link ( karlink ). Dikesempatan ini, saya benar-benar merasa menjadi seorang jurnalis.
Ini adalah pengalaman pertama saya meliput di ruang publik, yang ternyata tidak semudah penggambaran saya. Kelompok peliputan saya, harus menghadapi masalah perizinan dari pihak pengembang security karlink. Namun, ada hikmah dibalik masalah itu. Perdebatan kami dengan pihak security menjadi inspirasi untuk membuat sebuah bulletin dengan headline “ ruang public dengan segudang aturan”.
Tim Liputan Karlink
Melalui kegiatan ini, saya mendapatkan banyak hal baru yang tidak saya temui dibangku kuliah. Pengalaman-pengalaman dan pengetahuan yang berharga yang tidak semua mahasiswa bisa merasakannya. Menjadi jurnalis itu bukan hal mudah, harus disiplin. Pada waktu, pekerjaan, bahkan pada diri sendiri. Apa yang saya dapatkan di dikdas ini akan saya manfaatkan di masa depan, ketika saya sudah benar-benar berhadapan dengan pekerjaan dan kompetisi.